Biografi Bapak Pengasuh

Merantau Menimba Ilmu

Suker Fabriek Peterongan, Jombang (sumber : www.colonialarchitecture.eu)

Tujuan perantauan pertamanya ke arah Timur, tanpa membawa bekal apapun, hanya bekal tekad yang kuat dalam dirinyalah membawanya ke daerah Jombang, Jawa Timur dengan berjalan kaki. Mengapa ke Jombang? Pada masa itu Jombang terkenal karena “pondok”nya. Pondok yang banyak didatangi orang untuk belajar ilmu. Di Jombang ia belajar ilmu silat dan ilmu-ilmu lainnya. Ilmu silat diperolehnya dari Bapak Hasan Basri. Di samping itu, untuk menyambung hidupnya serta untuk menambah pengalaman di bidang lainnya, ia bekerja di Pabrik Gula Peterongan. Hal ini dikerjakannya sambil berguru (Ini menunjukkan, suatu tekad yang besar untuk mencari/ mencapai sesuatu harus disertai suatu pelaksanaan, meskipun berat. Tidak patah semangat walaupun tidak ada yang membantu. Yang utama adalah tekad dan kemauan untuk berusaha).

Setelah dirasa cukup semuanya, pemuda Soebandiman melanjutkan perjalanannya dengan mengambil arah kembali ke Barat, yakni ke daerah Solo, Jawa Tengah untuk berguru lagi, hal ini dilakukannya karena ia merasa ilmunya belum lengkap.
Di daerah Solo, R.M. Soebandiman berguru pada Bapak Sayyid Sahab dalam bidang ilmu silat, sedangkan untuk kelengkapan ilmunya, ia berguru kepada eyangnya sendiri yang bernama Ki Jogosurasmo. Di bawah asuhan eyangnya ini sang pemuda digembleng dalam ilmu kanuragan, karena eyangnya memang ahli dalam bidang ilmu kanuragan.

Dari Solo, Semarang-lah yang menjadi tujuan berikutnya untuk berguru pada Bapak Soegito yang beraliran Setia Saudara (SS). Sifat pemuda yang pada umumnya selalu haus akan sesuatu yang baru, telah merangsangnya mengetahui lebih dalam demi kepuasan jiwa. Apalagi pada usia pancaroba, semuanya selalu ingin dibuktikan dan dicobanya serta ingin terus-menerus mencari dan mencobanya. Putera keluarga Pakoe Alaman ini sama dengan pemuda lainnya yang berjiwa muda dan selalu haus untuk berguru dalam menambah pengetahuan dan pengalaman serta ingin merasakan sesuatu yang dirasa baru. Berdasarkan sifat alami pemuda inilah R.M. Soebandiman berguru lagi ke Pondok Randu Gunting, Semarang terutama berguru dalam ilmu kanuragan.

Timur, Utara telah dikunjunginya, maka Cirebon menjadi terusan langkah kakinya mengayun, dan baru berhenti di daerah Kuningan – Jawa Barat, suatu daerah yang pada waktu itu cukup terkenal untuk didatangi berguru. Di sinilah Raden Mas Soebandiman berguru ilmu silat dan kanuragan.
Apakah yang terkandung dalam sanubari pemuda yang telah meningkat dewasa, sehingga terus-menerus berguru? Apakah hal ini tidak membosankan dan membingungkan diri sendiri?.
Ternyata pemuda R.M. Soebandiman mempunyai tekad yang besar, yakni mengadakan penggabungan-penggabungan dan mengolahnya menjadi satu seluruh ilmu yang dipelajarinya. Jadi tujuan berguru kepada yang satu dan kepada yang lain adalah untuk melengkapi serta ia ingin mengetahui sesuatu yang baru dan menambah mana yang kurang. Semua ini dilakukannya sejak pertama kali ia merantau.