Biografi Bapak Pengasuh

Mendirikan Perguruan

Setelah dirasa cukup baik silat yang diciptakannya, R.M. Soebandiman pergi menetap di Banyumas untuk menyebarluaskan ilmu silat ciptaannya yang pertama dengan membuka Perguruan Silat dengan nama Eko Kalbu disingkat EKA. Kiranya di sini dapat diambil gambaran bahwa pemuda yang dahulu muda dan sekarang sedang meningkat dewasa ini tengah melakukan suatu pertapaan sambil merantau dalam menggembleng diri untuk menumbuhkan suatu kepercayaan kepada diri sendiri atas segala kemampuan dan keyakinannya.
Pengalaman demi pengalaman, gemblengan demi gemblengan, susah-sedih, gembira-suka silih berganti dan akhirnya menumbuhkan satu manusia yang berpendirian kuat, bermental baja dan berkeyakinan teguh.
Bila segala sesuatu itu dikerjakan dengan baik dan didasari oleh niat baik pula, maka petunjuk/tuntunan dari Tuhan Yang Maha Esa akan datang menerangi jalannya dalam mencapai cita-citanya. Pemuda yang meningkat dewasa dengan pertapaan yang kuat ini, akhirnya memperoleh tuntunan atau petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa serta berdasarkan karunia-Nya mendapatkan ILMU JATI, dan menjadikan dirinya satu manusia yang baru, manusia yang penuh keyakinan dan rasa percaya diri.

Bertemu Suhu Yap Kie San

Sukong Yap Kie San

Di daerah Banyumas ini, tepatnya di daerah Parakan, Temanggung – Jawa Tengah, R.M.S. Dirdjoatmodjo berjumpa dengan seorang suhu bangsa Tionghoa yang beraliran Siauw Liem Sie. Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo belajar silat lagi dari suhu ini. Beliau berpedoman bahwa belajar itu tidak memandang usia dan bangsa, yang penting ialah ilmu yang dipelajarinya berguna baginya. Setelah menjalani cobaan demi cobaan, gemblengan demi gemblengan selama 14 tahun yang bisa dilaluinya dengan baik, akhirnya tercapailah tujuan belajar silat R.M.S. Dirdjoatmodjo pada suhu Yap Kie San.

Bak burung terbang tinggi akhirnya kembali ke sarangnya, berlaku pula pada R.M.S. Dirdjoatmodjo. Setelah pergi merantau beberapa tahun kesana kemari, ke Timur, Utara, Barat dan Selatan, kembali ke Yogyakarta tanah kelahiran dan kampung halamannya. Di sini R.M.S. Dirdjoatmodjo diminta oleh Pak De-nya, Ki Hadjar Dewantoro untuk mengajar silat.
Dari perantauan ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa segala sesuatu itu bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh akhirnya tercapai juga, seperti pepatah Jawa menyebutkan Sopo Temen Tinemu. Hal ini dapat merupakan suatu contoh yang baik untuk diteladani.